GEMPA yang membuat kita lantak, telah menjadi genderang tambur untuk dunia. Semua orang tergagap, lalu bertindak. Sekadar menolong. Pertanda kita makhluk yang memiliki kelembutan untuk menolong. Jika gempa tak memandang siapa, dari mana, beragama apa. Barangkali Tuhan pun hendak menegaskan “menolong” tak memandang siapa, dari mana; pendosa atau pun maksum. Seperti Nabi saw. Orang kafir pun ia selamatkan dari murka. Walau wajahnya diludahi. Ia balas dengan senyum, dan dengan kata-kata yang lebih tenang.
Juga di Pariaman. Israel. Walau mereka memiliki paras bengis. Merengut korban di Palestina. Tapi masih ada sisa kemanusiaan dalam hati mereka. Salahkah jika mereka ulurkan tangan. Sekadar membalut luka menganga saudara? Untuk korban gempa. “Lalu kenapa obat-obatan itu disita MUI.” Barangkali, alasan MUI ada pada “menyelamatkan akidah.” Jika menoleh pada akar kata “akidah”; adalah masdar, dengan “ta” marbuthoh. Menunjukkan “takrir”. Sesuatu yang berulang-ulang dan kukuh. Ibarat ikatan yang disilang, berulang-ulang, dan dipintal-pintal. Sehingga probabilitas kemelencengan dari ikatan itu, kecil. Dalam konteks Minang. Bukankah kita orang Islam. Akidah kita bukan hal yang sinkretis. Atau pun kejawen. Tapi Islam kita jalin berkelindan menjadi identitas. Bagaikan ruh dalam tubuh. Lebih dari itu, ia telah menjadi spirit; mengerakkan kata Mohamad Sobary. Mungkinkah dengan sebilah obat-obatan kita berpindah agama. Barangkali tidak. Lalu kenapa takut.
Jika kita mencibir pada Israel, barangkali wajar. Tapi jika MUI menyita bantuan Israel untuk korban gempa, masih wajarkah? Atas dasar apa? Mungkin atas dasar “sentimen keagamaan.” Itu pun barangkali. Melampaui hal ini, ketika semua kita lantak oleh luluh. Rumah-rumah rata. Keluarga telah rengkah di bawah tanah. Luka masih menganga. Maka adalah keniscayaan, jika bumi Minang akan menjadi sarang bagi bantuan-bantuan asing. Seperti tetangga yang memasak sayur, ia hantarkan “kuah” bagi kita. Etiskah kita tampar pemberian itu hingga tumpah. Tak ada satu agama pun yang mengajarkan “menolak pemberian.” Apalagi Islam. Untuk tidak mengatakan “hipokrite”. Karena memang kita tengah butuh. Tuhan pun marah jika kita menjadi “hipokrite.” Siapa tahu Tuhan lah yang mengerakkan hati Israel, menelurkan bantuan. Sedikit ia jentik hati mereka dengan “hibah.” Lalu tergerak.
Dalam keadaan serba kusut masai. Psikologi yang terguncang. Kita sama-sama tahu, keadaan tengah serba sulit. Sekadar untuk bertahan dalam Islam adalah hal kecil bagi kita. Tapi untuk menganjal perut, mengobati luka yang bernanah atau membangun sendi-sendi rumah yang rata, tanpa harus mengadaikan akidah, kita butuh “gandengan” orang lain. Sekalipun meraka Yahudi. Agaknya kearifan ini adalah patok yang terpancang dalam akar kearifan Minangkabau. Open minded. Tradisi kita telah ajarkan integralistik, harmonis dan dialektik dalam menalar, hingga melahirkan sikap yang inklusif tapi spritualis.
Dus, berpikir integral antara “kemanusian dan spiritualitas” dalam kondisi yang oleng adalah keniscayaan. Seperti di Minang saat ini. Mengkambing hitamkan “agama”, entah itu Yahudi; Nasrani, untuk menolak bantuan, sekadar hendak menampar “lil ta’lim” adalah sikap kekanak-kanakan dalam beragama. Sudah sama-sama kita hirup, agama kita masih kuat. Akidah kita, masih terpancang kokoh. Karena itu kita butuh kemaslahatan yang lebih mendesak. “need necessaries” dalam ilmu ekonomi atau “al-hajji’ah” dalam konsep Imam as-Syatibi. Pendeknya, obat-obatan, alat bertukang, tenda, sandang dan papan adalah kebutuhan kita, Para Korban di tanah gempa.
Demikian, agaknya MUI atau pun segelintir yang “pendek”, untuk tidak mengatakan kekanak-kanakkan dalam memahami kemaslahatan; perlu kembali memantik makna kemaslahatan versi yang lebih humanis; solider; dan tak keruh oleh subjektifitas “absolutisme” paradigma beragama (absolutism paradigm in religiousity). Untuk rehat sebentar, burai dulu lah nalar burhani dalam memaknai realitas, terkait bantuan Israel pada kita. Buka sedikit saja hati, agar belenggu “skriptualisme” dalam memantik ayat “Tidak akan ridho Yahudi dan Nasrani terhadap-Mu.” Terburai. Sebentar dalam lantak puing-puing, singkirkan pemahaman teks oriented. Beralihkan pada nalar irfani.
Bukankah As-Syatibi (w 750 H) telah melantaikan teori “kemaslahatan”. Seperti tukang rumah. Ia tahu Islam, tak cukup mengandalkan sikap “skriptualisme” dalam memaknai realitas. Al-Jabiri (1939) melengkapi As-Syatibi, “kita butuh nalar irfani”, untuk memantik fenomena sosial. Keduanya mendorong kita, agar bersikap arif memandang fenomena bantuan asing. Jangan terbuai “ketakutan” bertukar akidah. Lalu membabi buta, menampar orang asing, terlebih Israel, karena meraka Yahudi.
Jika korban gempa saja bisa berpikir arif, “saat ini menghargai pemberian dan menimbang ikatan kemanusian, lebih penting dari pada melihat “siapa dia”, “apa agamanya.” Senada yang diperlihatkan Cak Nur kriteria keberkenaan kepada Allah bukan keanggotaan formal seseorang pada suatu agama an sich-secara sederhana: masuk Islam atau tidak-melainkan sikap hati orang itu. Islam menurut sosok yang dikenal sebagai Guru Bangsa itu juga berarti "penyerahan" kepada Tuhan. Dalam makna yang lain, lebih menukik lagi, ber-Tuhan bukan terletak pada sikap “heroisme” menjadi pagar bagi orang yang ber-akidah. Melainkan adalah membasuh hati agar lebih arif dalam ber-akidah. Seutuhnya, agar agama tidak habis terkuras “mempersoalkan akidah”. Tapi melainkan bagaimana akidah itu menjadi bara untuk melakukan aksi, lebih sosial, dan solider. Allahu a’lamu.[]
Buku baru terbitan Pustaka Fahima. Segara Miliki Buku 30 Materi Pilihan Kultum Ramadhan ini!
Judul : 30 Materi Pilihan Kultum Ramadhan Penulis : Muhammad Sholihin Penerbit: Pustaka Fahima
Dari Penerbit:
Banyak tawaran menarik yang disampaikan Rasulullah Saw bagi mereka yang melakukan dakwah ilallah. Di antaranya adalah didoakan oleh seluruh makhluk dan jagat semesta. Bahkan untuk amalan ini Allah sendiri memberikan predikat khairu ummah bagi siapa saja yang melakukannya. Tawaran-tawaran yang menarik ini tentu saja akan berlipat ganda nilainya jika Anda melakukannya di bulan Ramadhan. Oleh karena itu melakukan dakwah pada bulan Ramadhan menjadi sesuatu yang akan mengantarkan derajat seseorang pada tingkatan yang tak ternilai di sisi Allah.
Salah satu amalan dakwah di bulan Ramadhan yang begitu akrab dengan masyarakat Indonesia adalah kultum Ramadhan. Namun kadang-kadang tidak mudah untuk menyajikan materi kultum yang menarik sekaligus menggugah. Perlu persiapan dari semua aspek. Salah satunya adalah materi yang menarik. Buku yang Anda pegang ini akan membantu Anda agar bisa menyajikan materi kultum Ramadhan secara menarik, padat, penuh energi sekaligus kaya dengan motivasi! Disajikan dalam bentuk yang inovatif dengan membagi tema kultum sesuai dengan tiga keutamaan di bulan Ramadhan; rahmat, magfirah dan dijauhkan dari api neraka. Bagi para pemula, buku ini juga memiliki keutamaan tersendiri dengan disajikannya tips-tips kultum Ramadhan yang aplikatif.[]
Sapere aude! Beranilah menggunakan nalarmu sendiri!—itulah motto pencerahan. --Jurgen Habermas--
Pilpres telah berakhir di ujung plakat kemenangan SBY-Boediono. Slogan “lanjutkan!”, bergema menembus jagad nusantara. Seulas senyum; tepuk tangan bertalu-talu menyeruak dari ratusan pasang tangan-tangan pendukung SBY-Boediono. Kini Indonesia rebah dan tak mengeliat lagi, ada SBY-Boediono yang bakal menjadi pemimpin rumah tangga bangsa ini. Kemaren (07/07) seekor lalat menghampiri SBY, mengaung-ngaung seolah menghantarkan kabar kemenangan padanya, persis sama dengan lalat yang menghampiri Barrack Obama tempo hari. Tapi dengan makna yang berbeda.
Barrack Obama menang bersama dengan prosesi transformasi politik AS; dari model politik “smear and fear” ala G.W. Bush menjadi “inclusive and transforming” politik. Indonesia di bawah SBY, dengan slogan “lanjutkan!”, lebih terasa sebagai sebuah kemenangan di bawah stagnant modeling. Tidak terjadi transformasi politik. Namun siapa sangka, ternyata rakyat tenang tak mengeliat pada pesona model yang ditawarkan oleh SBY-Boediono. Ada beberapa faktor yang menunjang kemenangan SBY-Boediono ini.
Karakter charming-nya SBY menjadi pesona khas yang merajut hati rakyat, terutama di kalangan ibu-ibu. Di perkuat dengan hembusan detransformasi kebijakan; sebuah model pengembangan negara secara linier yang tidak menawarkan perubahan ideologis, orientasi; hingga membuat rakyat terpikat dan rebah dalam pangkuan SBY-Boediono. Kemenangan SBY-Boediono ini menjadi ayat atas karakter rakyat Indonesia yang masih sangat konservatif, tidak berani meloncat, mudah terjerat dengan pesona citralitas.
Demikian, rakyat tidak salah, malah rakyat telah berusaha menentukan pilihan, walau baru memulai, seumpama balita yang baru belajar mengkonsumsi nasi dan sedang peralihan. Rakyat belum utuh menganut “sepere aude!”. Sehingga kemenangan SBY-Boediono ini masih jauh dari pilihan berdasarkan “sepere aude!” minded, tak ayal lagi kemenangan itu mengandung faktor-faktor kompleks dan paradoks.
Kemenangan SBY-Boediono ini paradoks, karena pilihan terhadapnya didasarkan pada pencitraan, sentrifugal yang sengaja dibangun di atas ketokohan SBY. Model politik SBY-Boediono membuat rakyat tergagap dan kemudian memilihnya. Faktor kompleks kemenangan SBY-Boediono ini mengandung serpihan-serpihan human error, mulai dari DPT bermasalah, de-edukasi politik yang tersebar di Papua, membuat kemenangan SBY-Boediono masih kurang ideal jika diukur dengan parameter struktur politik demokrasi di negara maju.
Take Home Minoritas Kritis
Kemenangan SBY-Boediono adalah beban berat bagi minoritas kritis. Dan inilah tantangan terberat jika presiden adalah incumbent, di mana track record yang dibangunnya sekadar faktor alamiah constraint semata. Belum dibangun berdasarkan pilihan kebijakan strategis “exspanding and defense”; sebuah kebijakan politik, ekonomi, hukum yang dirumuskan untuk menaungi perubahan struktural sekaligus memilah perubahan tersebut berdasarkan prinsip “good and wealth” atau “maslahah”. Jelas SBY-Boediono akan melanjutkan kebijakan yang telah ia rumuskan bersama JK lima tahun sebelumnya. Dan ke depan, kombinasi antara SBY-Boediono ini tengah ditunggu gebrakannya untuk perekonomian bangsa.
Tahun-tahun setelah ini adalah medan pengujian dan pembuktian, apakah SBY-Boediono betul-betul terpesona dengan dalil-dalil ekonomi-politik liberalitarian atau tidak sama sekali. Jika terbukti, maka jadilah lima tahun ke depan sebagai jalan pengasingan dan keterlemparan SBY dari hati rakyat, seperti halnya Soeharto yang terlempar dari memori rakyat atas kearifan politik-ekonomi yang terpenggal ketika Soeharto memerintah. Kemenangan SBY-Boediono, setidaknya membuat kelompok minoritas kritis lebih mawas lagi menjadi garda depan mengawal demokrasi dan kebijakan negara. Karena pada kelompok inilah, sesungguh transformasi demokrasi politik digayutkan. Tidak hanya pada kelompok oposisi. Kenyataannya, setengah abad lebih bangsa Indonesia berjalan, membangun sendi-sendi dan taman-taman demokrasi, tapi masih menyisakan kesenjangan dalam berbangsa dan bernegara. Kemenangan SBY-Boediono kali ini dikategorikan sebagai hadiah dari rakyat dan anugerah dari Tuhan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Anas Ubaningrum (08/07), sungguh mengandung seikat pemaknaan. Sah jika rakyat memang memilih SBY-Boediono, karena harapan atau mungkin terpesona oleh karakter SBY serta terjanjikan dengan detransformasi kebijakan yang ditawarkan oleh SBY-Boediono.
Perjalanan bangsa Indonesia lima tahun mendatang lebih berat lagi. Sebab kecenderungan ideologis ekonomi tentu tak beranjak jauh. Model pengembangan demokrasi masih setengah tiang dan terus berproses di bawah politik kejawen SBY-Boediono. Dalam kondisi ini kelompok minoritas kritis tak berpeluang jengah dan diam tak berkutik. Karena transformasi demokrasi, transformasi ekonomi masih mengawan dalam gengaman SBY-Boediono, dengan parameter politik detransformasi kebijakan yang ditawarkannya.
Tugas pertama minoritas kritis setelah SBY-Boediono merajut kemenangannya, ialah apakah SBY-Boediono berani se-berani menjatuhkan pilihan kepada Boediono pilihan yang tidak populer ketika menentukan formasi-formasi kabinet mendatang. Tentunya kabinet-kabinet yang dipilih berdasarkan potensi dan skill bukan berdasarkan “sell and order” politik.
Kemenangan SBY-Boediono kali ini mengguratkan kembali kegundahan Albert Einstein dulu ketika Jerman bergejolak “Sepanjang aku bisa memilih, aku hanya tinggal di negara di mana kebebasan politik, toleransi, dan kesetaraan semua warga negara di hadapan politik; belum lazim.” Semoga saja makna kemenangan SBY-Boediono kali ini tak menyisakan kutukan, tapi melahirkan harapan yang mesti ditunaikan oleh SBY-Boediono.[]
Tugas penting pemerintahan adalah menciptakan kemaslahatan. Demikian sebuah kaidah fiqh menuntun dan mengarisi kewajiban negara terhadap rakyat yang dipimpinnya. Dalam konteks ini, sudahkah negara kita berjalan ke arah itu; sebuah jalan yang ditapaki untuk menciptakan kemaslahatan bagi ummat/rakyat?
Satu bulan lalu, tepatnya hari Minggu, di pertengahan Maret; saya masih ingin menjelajahi Kota Padang, untuk sedikit mengamati rona kota yang kini tengah berubah; Saya memutuskan untuk sedikit berjalan kaki dari Hawai; sebuah kawasan pertokohan di Pasar Raya, Padang menuju ke Mesjid at-Taqwa. Perjalan ini membuat hidung Saya terasa kempas-kempos menghirup polusi yang ditimbulkan dari knalpot mobil, dan sepeda motor yang melintas di jalan pasar raya ini, karena memang penguna kendaraan bermotor di kota ini kian meningkat semenjak dekade terakhir, walaupun krisis keuangan global menimpa, masuk, menyergap untuk kemudian meruntuhkan sendi-sendi perekonomian. Namun heran, tingkat konsumsi tampaknya tidak begitu terpengaruh, akankah ini menandakan negara kita tengah kian melenjit menjadi negara makmur? Saya belum yakin sepenuhnya. Kembali pada jalan tadi; diiringi klakson mobil, gemuruh bebunyian sepeda motor, saya berjalan pelan diantara sesak kendaraan, ketika hampir sampai di tugu air manjur di simpang empat, dekat at-Taqwa, langkah saya terhenti atau terpaksa menghentikan langkah, sebab didepan saya tengah duduk seorang laki-laki tua, lumpuh, dan di depannya terdapat ember kecil, berwarna biru, entah untuk apa, tapi yang jelas didalam ada lembaran rupiah yang ukuran tidak seberapa jika dibanding dengan tabungan anak pejabat yang baru lahir satu hari. “Dia”, kata penduduk kota ini adalah pengemis; bagi saya ia tidak tampak sebagai pengemis, melainkan hanya seorang manusia malang, yang terpaksa membeku ditepi jalan itu, mengais uang logam dari orang-orang yang lalu lalang mengantikan peran negara, mensubsidi mereka.
Kisah lain serupa, tapi beda tempat; pertengahan April 2009, kaki saya menginjak tanah Jawa, “Yogyakarta”; sebuah kota tempat berdirinya Keraton Ngajogyakarta di mana Sri Sultan hidup, dan kini tengah menyiapkan diri untuk berlayar menuju istana negara, gedung putih di lapangan banteng, dekat Monas di Jakarta. Saya tidak begitu tertarik membicarakan ini. Melintasi ini; hampir setiap hari saya melintasi jalan Urip Sumoharjo, ini agaknya menjadi rutinitas Saya hari ini, dan entah untuk beberapa waktu kedepan―Saya nikmati, gemuruh mesin motor, mobil, yang kelihatannya tergesa-gesa melintasi jalan Urip Sumoharjo ini. Sebuah Panorama yang menyimpang, karena saya tidak lagi menemukan sepeda Ontel yang menjadi gambar dari baju Dagadu, yang dulu sering Saya lihat di baju teman-teman saya.
Masyarakat teknologi kini telah mengantikan masyarakat ontel di Yogyakarta. Ironisnya, ketika di Padang pengemis bergelimpangan di jalanan walau tidak terlalu banyak, di Yogya juga berjejer. Bahkan sedikit lebih parah, pengemis, ada juga gembel―tidur di emperan toko-toko yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari di sepanjang jalan Urip Sumoharjo dan mungkin juga masih banyak di sudut lain di kota Yogyakarta. Modusnya sama, mereka adalah penarik pajak mengantikan peran negara dari tangan-tangan masyarakat yang sedikit punya uang, pantaskah?
Memahami fenomena ini saya kembali ingat inti dari tulisan Radhar Panca Dahana, yang bertajuk “mari mensubsidi negara”, dalam sebuah media massa. Objeknya sama, ketika Radhar Panca Dahana menaiki angkot dari rumah ketempat kerja, ia dibrendel oleh suara pengamen menyanyi secara dadakan, begitu juga pengemis yang membalik telapak tangan mereka, hingga memperlihatkan telapak tangan yang kumal, agar diisi dengan uang rupiah; Radhar Panca Dahana, menyimpulkan ketika kita memberi mereka uang, sungguh kita telah mengantikan peran negara mensubsidi orang-orang miskin, dan anak-anak terlantar, sebagaimana yang termaktub dalam batang tubuh UUD-1945. Semestinya negara lah yang menjamin kehidupan yang layak pada anak-anak terlantar, orang miskin ini sebagaimana yang diamanahkan UUD 1945.
Di sekitar kita, berjejer rakyat-rakyat jelata, yang dikategorikan orang-orang miskin oleh negara; orang-orang yang berpenghasilan 5.000 sampai 10.000 rupiah setiap harinya, atau malah kurang―ini kategori yang dirumuskan oleh BPS; sebuah lembaga statistik kepunyaan negara. Benar atau tidak, yang jelas orang-orang yang berpenghasilan dalam range itu harus mau dikatakan miskin. Lalu jika begitu banyak orang miskin di negara ini, Apa yang dilakukan negara?
Sebuah negara baru dikatakan makmur jika ia telah mencapai indikator-indikator yang ditetapkan oleh negara-negara maju lewat teori pertumbuhan ekonominya, seperti tingkat konsumsi yang tinggi, pengunaan teknologi, waktu luang (leisure times). Ini berbeda dengan indikator yang ditetapkan Islam. Bagi Islam, sebagaimana yang termaktub dalam hirarkis pembentukan fikih dalam Mazhab Hanafi, Syafi’i, dan juga Maliki; kemaslahatan menempati locus yang penting, ia menjadi indikator dalam pembangunan hukum, ekonomi, dan politik di sebuah negara. Negara sah dikatakan tidak makmur jika negara belum mampu mewujudkan kemaslahatan bagi ummat/rakyatnya.
Selama ini kita, terutama negara “abai” mengaitkan tujuan politik, ekonomi berdasarkan teori kemaslahatan (al-muslahah al-mursalah). Hal ini dapat ditelisik dari berjejernya kemiskinan, busung lapar, pengemis, anak terlantar, malnutrisi, penganguran, melek huruf.
“Raiyatu al-imam manutun ala maslahah”; sebuah teori universal yang sejajar dengan etika kebahagian yang dicetuskan oleh Aristoteles, “mewujudkan kemaslahatan umum”, seperti mendorong masyarakat meraih kebahagian, yang diukur dari tingkat pencapaian kesehatan, pendidikan, subsistensi ekonomi. Namun sedikit lebih maju, dalam aliran fikih, kemaslahatan tidak hanya diukur dari pencapaian material, tetapi dimensi spritual juga menjadi bagian inheren dalam kemaslahatan tersebut. Ada penjagaan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta dalam teori kemaslahatan yang dirintis oleh tokoh-tokoh fikih dalam Islam.
Asy-Syatibi minsalnya, menegaskan kemaslahatan wajib diwujudkan, tanpa kemaslahatan pertumbuhan dan perkembangan material dan spritual tidak akan dapat diwujudkan. Ini kemudian yang menjadi dasar argumen, bahwa siklus politik, dan regulasi ekonomi, pun supremasi hukum setidaknya akan bermakna dan mampu menjadi energi pengubah sebuah negara dan bangsa jika saja sistem, budaya yang digerakkan oleh elementer-nya berjalan dengan ruh kemaslahatan ini. Tanpa ini, Allahu a’lamu bi shawab.[]
Jika gagasan tentang Tuhan tidak memiliki keluwesan. Niscaya ia tidak akan mampu bertahan untuk menjadi gagasan besar umat manusia. Karena itu, setiap generasi harus menciptakan citra Tuhan yang sesuai dengan zamannya.
--Karen Armstrong, 1993—
Memantik makna tauhid sesungguhnya tidak tuntas pada titik mengetahui”what” dan ”how” segala hal tentang Tuhan. Jika dalam literatur klasik makna Tuhan sebagai poros dari Tauhid; di pancarkan melalui pemaknaa imajiner dari teks-teks agama, maka tauhid dalam ”tradisi” lisan dan mantik belum utuh menjadi hal yang sosial dan terhujam. Hari ini, Tauhid mesti dijadikan sebagai titik kulminasi semangat ketuhanan, dan di arahkan pada locus kemanusian.Inilah yang dikatakan sebagai ”tauhid sosial”. menukikkan hal ini, benarkah ada relasi aktif antara Tauhid dengan semangat ”liberasi”?
Tauhid berpijak pada fondasi kalimat ”la illah ha ilallah”. Ini merupakan nuclear of mean dari tauhid. Ada komitmen trasendental yang ditawajuhkan hanya kepada Allah swt. Hal ini diperkukuh secara implisit dari QS. QS. Adz-Dzariat (51):56, “telah aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaKu.” Ayat ini kian mengariskan tapak kehidupan manusia bermuara kepada Tuhan. Namun demikian, walaupun muara kehidupan itu adalah tuhan, bukan berarti kehidupan kosong, kering, dan tidak diisi dengan aksi transformasi. Kehidupan tidak akan bermuara tanpa dikawal, didorong oleh kebajikan yang luwes terhadap alam. Dalam kerangka inilah sesungguhnya tauhid menemukan makna sejatinya sebagai the heart of islam (jantung islam), hingga menjadi amunisi, tumpuan spirit untuk melakukan transformasi—ujungnya adalah liberasi. Tauhid dalam tatanan praxis mesti menjadi komitmen keimanan terhadap Allah per se; keluar dari komitmen ini berarti keluar dari lingkaran tauhid, bahkan bisa dikatakan ”fasiq”. Nyata, dari komitmen ini setiap ”pemberhalaan” adalah kemapanan yang mesti dikuliti dan ditelanjangi dari kehidupan umat. Dalam locus inilah relasi tauhid dengan liberasi berkelidan. Kemudian seutuhnya tauhid menjadi dorongan berpijarnya ”keshalehan sosial”.
Dari Komitmen Transendental Ke Komitmen Sosial
Pada awalnya adalah tauhid an sich. Kini maknanya, merembes dan luwes menjadi tauhid sosial, yaitu dari komitmen hanya kepada Allah, lalu dihayati sebagai landasan gerakan untuk melakukan liberasi. Tepat jika tauhid sosial dipahami sebagai komitmen dan aktualisasi Islam dalam totalitas kehidupan masyarakat, dalam berituk amal salih sosial.
Jika dalam bentuk yang paling orthodoks, tauhid hanya baru dihayati dalam lintang vertikal, belum melintasi lintang horizontal, hingga tauhid masih berkutat, berpusar-pusar indah dalam dimensi privat, dan hanya memberikan impuls ”tenang” secara personal. Di balik tradisi ini, sesungguhnya tauhid memiliki multi dimensi, ruang luwes seperti rhizoma, yang menyentuh ruang-ruang sosial. Dalam bentuk ini, tauhid akan terasa hidup, membumi, dan mendatangkan eksternalitas positif bagi manusia secara universal dan yang paling bermakna tauhid menjadi dawai kolektif, yang membuat semua orang merasakan ekstase kebertuhanan yang membebaskan dan memerdekakan.
Tauhid dalam makna universal merupakan paradigma teologis yang bersifat memerdekakan atau membebaskan manusia. Ekses tauhid ialah membebaskan manusia dari rantai ”idolisme” serta memerdekan manusia dari ”kemapanan” yang menyesatkan. Tauhid merupakan komitmen menyeluruh, mendasar, menjadi darah bahwa sumber kehidupan adalah Allah, dan dimuarakan pada kemanusiaan.
Meminjam terma yang dikemukan oleh Amien Rais bahwa pandangan tauhid bertelekkan pada komitmen meng-esakan Tuhan (unity of Good head), serta melahirkan konsepsi ketauhidan yang lainnya dalam wujud keyakinan akan kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan pedoman hidup (unity of guidance), dan kesatuan tujuan hidup (unity of tbe purpose of life) umat manusia[3]. Kelidan kelima sudut pandang ini menjadikan tauhid terpencar-pecar sebagai energi baru untuk mengaktualkan semangat ”ketuhanan” dalam sistem sosial, hingga ruang publik sebagai refresentasi ruang sosial dilingkupi oleh semangat transendental.
Tauhid bukan sebuah ’diktum’ teologi per se, apalagi sebuah domain agama yang tegak melintang, tanpa dibaringkan secara horizontal. Tetapi tauhid sesungguhnya merupakan ’domain’ yang bermain dalam dua dimensi, yaitu dunia dan akhirat. Dalam Lucus ini, semangat tauhid bersipat all-embracing bagi penataan sistem kehidupan sosial, politik ekonomi dan budaya. Sebagai jantung dari agama Islam, tauhid mesti bertapak di bumi. Dalam bentuk inilah Islam mampu dicitrakan sebagai agama syumuliyah dan rahmatan lil alamin. Memperkukuh hal ini Kuntowijoyo mengutarakan bahwa tugas terbesar Islam sesungguhnya adalah melakukan transformasi sosial dan budaya dengan nilai-nilai tauhid[4]. Jika kita menoleh kedalam ruang suci agama (baca: Al-Qur’an), maka ”kita” akan menemukan dorongan yang berserak untuk membumikan ”keimanan”, ”komitmen” tauhid. Karena itu, tepat jika Islam diartikan sebuah humanisme, yaitu agama yang sangat sentral mementingkan manusia sebagai tujuan sentral.
Mengaktualkan tauhid sebagai poros humanisme, berarti mengakui bahwa tauhid didorong ke arah emansipasi teologis yang diinduksi dari fitrah manusia sebagai khalifah serta mencoba memahami keluwesan fungsi manusia melebihi, melampaui fungsinya sebagai abdi tuhan an sich. Ketika manusia memahami esensi dirinya, maka tak ayal Ia akan mendapatkan sense of freedom dalam dirinya. Dalam maqam ini, seketika nilai kemerdekaan, pembebasan dari dominasi, hegemoni, baik oleh thaqut material, maupun thaqut immaterial mengental dalam diri seorang mukmin. Nurcholis Madjid dalam konteks ini membangun asumsi bahwa terdapat korelasi positif antara sikap bertauhid dengan nilai-nilai pribadi yang positif seperti iman yang benar, sikap kritis, penggunaan akal sehat atau sikap rasional, kemandirian, keterbukaan, kejujuran, sikap percaya pada diri sendiri, berani karena benar, serta kebebasan dan rasa tanggungjawab[5].
Kian terngiang, betapa tauhid mesti diorientasikan pada aras kolektif, tidak hanya dipakukan pada aras individual semata. Jika hal ini mampu ditransformasikan, maka tauhid akan menjadi amunisi, bangunan untuk membentuk keshalehan sosial. Dan tauhid dalam bentuk ini terasa, dilihat lebih hidup, segar, dan membebaskan. Karena memang kata Kuntowijoyo, tauhid harus diaktualisasikan: pusat keimanan Islam memang Tuhan, tetapi ujung aktualisasinya adalah manusia[6]. Dalam bentuk inilah, Islam menjadikan tauhid sebagai pusat dari semua orientasi nilai, dan pada saat yang sama melihat manusia sebagai tujuan dari transformasi nilai. Tertuang dari aras ini, dimensi tauhid berlimbak pada humanisme teosentrik; yang memusatkan diri pada keimanan terhadap Tuhan, dan mengarahkan perjuangan untuk kemulian peradaban manusia.
Tauhid; Benih Pembebasan Bagi Mustad’afhin
Tanpa disadari ”kita” tengah berenang dalam samudera modernitas yang saling bertumpuan dengan industrialisasi. Dalam era ini, logika kemanusian seketika digantikan oleh logika konsumerisme. Orientasi nilai ”transendental” perlahan ditutupi, dan nyaris tak terlihat oleh nilai-nilai pasar-isme. Dalam bentuk ini, agama cenderung dihayati secara simplistis; karena memang dalam era modernitas segala hal sedang terseret arus deras rasionalisme pasar, hingga agama hanya mampu menjadi apresiasi umum, dan konsumsi publik, hingga bertekuk dalam komiditas politis. Agama dalam bentuk ini nyaris kehilangan eksistensialitasnya yang originil; agama tak lagi menjadi semangat pembebasan. Alhasil, bergelimpangnya ”ketertindasan” kaum musthad’afin oleh modernitas adalah directly impulse dari keberagamaan yang kian berlari meninggalkan tapal humanisme teosentriknya.
Menyahuti ini, tidak mengherankan jika Nietzche membakar jengot kaum spritualis, agamis dengan pernyataannya ”tuhan telah mati”. Namun pernyataan Nietzche ini bukan berkonotasi atheis, yang menegaskan dirinya anti-tuhan. Tapi sesungguhnya ini merupakan sentilan ketika agama telah menjadi kemapanan akut. Teologi kematian Tuhan ala Nietzche ini bermakna bahwa agama kini tidak lebih sekedar ilusi belaka. Intinya, penegasan bahwa kepercayaan akan adanya Tuhan dan seluruh aspek kehidupan yang dikaitkan dengan kepercayaan tersebut tidak lagi menjadi pilihan mutlak[7]. Patronase terhadap Tuhan-Tuhan digital telah mengantikan ”tauhid”; kekuasaan metafisik, tertindih oleh kekuasaan cyberspace. Kini, orientasi nilai melampaui nilai transendental religius , dan terjerembab pada lingkaran nilai virtualitas. Agama kini berhamburan masuk perangkap pencitraan ekslusifisme, hingga ini menjadi peneguhan atas politik identitas berbasis agama dan tak terbendung lagi.
Kini agama sedang beranjak, beralih kedalam keranjang modernitas; yaitu modernitas yang sama sekali menegasikan, menyintas nilai-nilai universalitas. Ironisnya, agama diperlakukan oleh pemeluknya ”sekeder” mitos, hingga tak lagi berdampak untuk menyegarkan, menenangkan, dan tidak lagi mampu membakar semangat membebaskan dari kemapanan. Saung agama telah mulai reot, karena memang agama kini terputus dari siklis transformasi. Sebab agama sedang berada dalam dunia sedang diredung malapetaka kemanusiaan. Proyek dehumanisasi, menyelubungi kehidupan manusia. Realitas sosial, bahkan agama kian terjebak pada kemapanan hebat. ”Kita” sedang mendiami kavling kemapanan yang saling berhadapan-hadapan dengan ”ketertindasan”. Antara kemapanan dan ketertindasan hampir tidak ada lagi ”jedah”, ”spasi”, ”ruang”—kedua-dua yang saling mengisi realitas. Namun, diujung ”permainan” ketertindasan tetap menguratkan luka mendalam dibawah kelangengan kemapanan. Inilah era, di mana raungan musthad’afin memecah kesenyapan alam, mengiris hati yang rapuh.
Melampaui nestapa kemanusian ini, betapapun manusia lari menjauhi Islam. Namun tetaplah dalam struktur Islam yang nyaris tak terlihat, menyimpan ”segudang’ kekuatan. Kekuatan ini jika ditransformasikan akan menjadi ”atom” pemicu mendobrak, mejungkalkan kemapanan. Kuntowijoyo amat paham bahwa dalam Islam, tauhid mempunyai kekuatan membentuk struktur yang dalam[8]. Struktur ini berlapis dan memiliki kesatuan, hingga jika dihidupkan seketika menjadi medan yang membebaskan bagi kemapanan.
Ada sebuah konsesus primodial dalam masyarakat Islam, yaitu bahwa Masyarakat yang sebagian anggotanya mengeksploitasi sebagian anggota lainnya yang lemah dan tertindas tidak dapat disebut sebagai masyarakat Islam[9]. Inilah sesungguhnya yang menjadi pijakan bahwa satu muslim terhadap muslim yang lain merupakan pembebas, penjaga bagi muslim yang lainnya. Mereka bak satu tubuh yang saling mengisi, menguatkan. Karenanya, untuk memperkokoh konsesus ini, tauhid terhujam sebagai semangat ketuhanan sekaligus kemanusian. Di ujung yang lain, tauhid pembebasan tidak hanya menusuk ke dalam organ masyarakat Islam, tetapi juga mesti dilayangkan keluar masyarakat Islam, untuk membebaskan ”Mereka” yang menjadi korban dominasi dari kemapanan.
Secara historis, Islam hadir dengan kekuatan tauhidnya di tengah-tengah masyarakat mapan. Kemudian, Islam mampu merasuki kelompok ”pinggiran”, ”tertindas” oleh kemapanan itu. Waktu demi waktu Islam dengan kekuatan yang membebaskan mampu membuat kelompok mapan terperangah, dan akhirnya bertekuk lutut dan merebahkan diri dengan sekelumit ”keimanan” terhadap Allah. Ini adalah fakta historis, yang tak akan terbantahkan bahwa Islam teguh, kuat dengan tauhid pembebasan.
Kilas balik; sejarah awal Islam yang disampaikan oleh Muhammad saw, ternyata menyimpan pernik-pernik tauhid pembebasan, hingga tak selang berapa lama Islam mampu menciptakan tatanan sosial yang egaliter. Islam sendiri pada awal perkembangannya banyak dipeluk oleh orang-orang yang bukan merupakan golongan elit di masyarakat. Muhammad sebagai pembawa risalah juga berasal dari keluarga Quraisy yang walaupun cukup terpandang, tidak tergolong sebagai keluarga yang kaya dan memiliki status social yang tinggi. Pada saat itu Islam menjadi tantangan yang membahayakan para saudagar kaya Mekah, sehingga kemudian mereka menolak ajarannya. Bukan semata-mata karena mereka menolak risalah tauhid, tetapi lebih kepada ketakutan mereka terhadap Islam yang akan membawa perubahan sosial, khususnya pada tingkatan kekuasaan, baik politik maupun ekonomi. Dalam konteks inilah, tauhid menjadi poros dimana semangat pembebasan tetap berdesing. Dan dalam locus ini jua, tauhid menjadi pengerak keshalehan sosial dalam masyarakat Islam.▪
[1]Makalah ini ditulis dalam rangka pengantar Diskusi di LK II- HMI Cabang Bukittinggi, 5-11 Januari 2009, Bukittinggi.
[2] Penulis adalah Direktur Litbang Nagari Institute, dan Dosen IAIN Imam Bonjol, Mantan Ketua HMI Komisariat Syari’ah periode
[3] Dr. Haedar Nashir , MSi, Prespektif tauhid Sosial untuk Pemberdayaan Masyarakat, dalam www. muhamdiyah.or.id
[4] Kuntowijoyo, Paradigma Islam; Interpretasi Untuk Aksi, (Bandung: Mizan, 1991), h. 167
[5]Dalam www. muhammadiyah.or.id, diakses pada tanggal 3/01/09
[6]Ibid
[7] Lihat dalam Bryan S. Turner, Agama dan Teori Sosial, (Yogyakarta: IRCiSoDM 2006), h. 72
[8] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, (Bandung: Mizan, 2001), h. 15
[9]Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999)
Apa pentingnya demokrasi liberal jika hanya berbuah oligarki partai, lonjakan golput, menguatnya kharisma individual, melemahnya peran lembaga eksekutif.
(Ferran Requejo: 1991)
Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang perolehan suara terbanyak bagi calon anggota legislatif ke Senayan kian memperkukuh demokrasi liberal. Ini sama halnya dengan memperlebar sayap ”individualism” sebagai pucuk dalam konstruk perpolitikan ”Kita” saat ini. Dalam konteks ini, apa sesungguhnya motif MK memperlebar core politik dari ”pre-individualism” ke dalam ”pure-individualism”?
Memantik motif keputusan MK ini, setidaknya memaksa ”Kita” untuk menukik ke dalam logika demokrasi liberal yang ”bermain” dalam konstruksi politik. Menurut Ferran Requejo (1991) logika dasar dari demokrasi liberal ialah rasionalisme. Dari titik inilah, kemudian demokrasi berdiaspora menuju dataran ”liberalisme” yang lebih luas. Salah satunya, diaspora logika demokrasi liberal ini membentuk karakter politik marketisme, yang cenderung mengabaikan fitrah loyalitas kepada konstituen-nya. Dalam bentuk ini jua, maka political individualism menguat dan menggantikan political society. Pada tahap yang lebih maju, demokrasi liberal—akan dengan sendirinya ”memangkas” core komunalitas dalam politik.
Hilangnya tapak komunalisme dalam demokrasi, menandaskan pelbagai keyakinan akan ”rasionalisme” dalam demokrasi; politisi pun dengan alaminyamemunggut ”rasionalisme” sebagai patronase tindakan dan pola berpolitik. Rasionalisme dalam demokrasi tetap dimaknai secara tidak berbeda dalam pemaknaan ”rasionalisme” pada wilayah ekonomi. Ferran Requejo memahami rasionalisme dalam politik adalah “the maximization of particular interests of individuals and groups.” Menuju maksimalisasi keinginan, kepuasan politik; dalam hal ini ialah kekuasaan adalah semangat dari rasionalitas politik di tengah kubangan demokrasi liberal. Ini merupakan pengertian dalam bentuk yang lain dari rasionalisme pada kehidupan politik.
Rasionalisme dalam demokrasi memang tidak begitu akrab diperdengarkan dan amat jarang dikaitkan. Karena selama ini, stigma rasionalisme hanya dilekatkan pada economic an sich. Namun seiring himpitan budaya pasar, maka ”rasionalisme” pun memasuki wilayah kehidupan secara luas, termasuk wilayah demokrasi. Inilah yang membuat ”kita” terpaksa mencacah ”liberalisme” dalam demokrasi. Seiring menguatnya rasionalisme dalam demokrasi menjadikan ”Kita’ sedang bertanya apa pengaruh terhebat rasionalisme terhadap demokrasi.
Pecahnya rasionalisme dalam tubuh demokrasi liberal, menyebabkan gesture demokrasi berubah seketika. Hal ini dilihat dari pergeseran orientasi politik di Indonesia saat ini. Politik tidak lagi bermakna bagi khalayak, terutama bagi aktor politik sebagai upaya mendorong transisi kekuasaan ke bentuk yang aplikatif dari komitmen kebangsaan dan kerakyatan. Yang terjadi malah sebaliknya. Politik hanya mampu mendorong perubahan pada kualitas individual semata dan tidak bersentuhan sama sekali dengan bangsa.
Fungsi politik dalam demokrasi sesungguhnya untuk mendorong demokratisasi. Namun ketika dentuman ”liberalisme” pecah dalam tubuh politik sebagai akibat lansung terkooptasinya demokrasi oleh ”liberalisme”—seketika politik berubah makna menjadi tujuan individual. Dalam kondisi ini, politik melahirkan berbagai bentuk politik semu, berupa politik pencitraan, politik digitalisasi, parahnya budaya politik uang menjadi bagian yang tak ter-elakkan.
Setiap aktor politik serta dipeparah oleh mesin politik (baca; partai politik) berpacu menjadi ”authistik”. Mereka mengkonstruksi realitas, yang sama sekali tidak berkaitan dengan realitas yang dialami masyarakat. Alhasil, ketimpangan ideologi dalam proses politik terhujam hebat. Ujungnya, demokrasi menjadi tumpul karena hanya dipahami sebagai ”fabricated” kekuasaan, tak lebih.
Immediasi Politik
Meminjam istilah Kierkegaard ”immediasi” dimaknai sebagai wilayah, di mana orang hidup berdasarkan hasrat dan perasaan yang menuntut untuk dipenuhi lansung. Ini tepat dipasangkan dengan kata politik. Karena kini tak ubahnya, realitas politik hanya dikonstruksi untuk memenuhi hasrat berkuasa secara cepat, instan, tanpa perlu mengabdi dan berbuat untuk rakyat terlebih dahulu.
Mengamati realitas politik yang sedang berkembang, mengingatkan ”Kita” pada sebuah drama faust karya penyair Jerman, Goethe. Dalam drama ini diceritakan bahwa faust membuat perjanjian dengan setan agar dapat memperoleh kenikmatan, kekuasaan, dan pengetahuan yang luas, termasuk mengenal sulap. Dalam konteks ini Faust merupakan tokoh estetis, yang selalu ingin tumbuh secara instan. Apa kaitannya penggalan ini dengan realitas politik kita saat ini?
Tak ada yang menyanggal bahwa politik ”Kita” saat ini lahir dari berbagai bentuk perjanjian yang kompleks, dan melibatkan banyak jejaring. Faktanya, perjanjian aktor politik dengan kekuatan modal untuk mendapatkan talangan kampanye, atau pun perjanjian politisi dengan media massa/elektronik untuk membentuk politik realitas; perjanjian-perjanjian ini adalah bagian penting dari proses politik saat ini. Ini merupakan perjanjian yang dilakukan oleh aktor politik dengan kekuatan yang berada di luar dirinya. Kemudian perjanjian-perjanjian ini akan melahirkan pelbagai konsekwesi, aneka tawaran regulasi terhadap ”patner” politiknya ketika sang aktor memenangkan pertarungan politik.
Perjanjian para politisi dengan jejaring kompleks, berakibat pada muara politik hanya untuk kekuasaan spasial, bahkan amat artifisial. Tak heran jika banyak regulasi yang digubah oleh aktor politik tatkala berkuasa hanya mampu melahirkan berbagai proteksi untuk kelompok. Jika regulasi ini tak mampu membayar ”utang politik”, maka seketika ”pikiran liar” (the savage mind) menyertai pola dan tingkah politisi di Senayan, makanya ”Kita” tak lebih terperanjat ketika banyak Dewan Rakyat (DPR) tersandung korupsi kelas kakap.
Immediasi politik ibarat sebidang tanah penuh tanaman yang semuanya ingin tumbuh. Kendati, antara satu tumbuhan tidak memiliki kualitas yang lebih dibanding yang lainnya. Demikian jua, dengan politisi kita hari ini. Pertarungan simbolik menjadi keniscayaan dari immediasi politik ini. Tak terbanyangkan bagaimana 38 parpol nasional dan enam di tingkat lokal untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam saling perang bracnmark (baca; simbol) politik. Pada saat yang sama, partai-partai lama, khususnya lima besar hasil Pemilu 2004, bersanding dan bertarung satu sama lain, dipersengit dengan hadirnya ”pemain” baru. Persaingan simbolik ini (baik simbol agama maupun nonagama) memperteguh pengertian masyarakat terhadap aktor politik/mesin politik ”hanya segitukah kualitas politik kita”.
Demokrasi liberal yang melahirkan anak haram ”immediasi politik” telah membuat Indonesia kian kupak. Kenyataannya, proliferasi persaingan politik secara simbolik kian menyeret simbol primodial, entah agama, ideologi ke dalam medan pendangkalan makna yang cepat. Bahkan, agama, dan kata sakti nasionalisme mengalami pendangkalan akibat penetrasi politik. Ketika kalimat-kalimat sakral ini ( baca; Agama, Nasionalisme) mengalami ”pendangkalan” entah kepada apalagi kita mentransedenkan bangsa ini. Sebab kalimat agama tidak lagi menjadi sakti, sama halnya dengan kalimat nasionalisme yang tak lagi ampuh merekat. Demikianlah cengkraman demokrasi liberal melukai bangsa, dan mengubah semangat politik negara.▪
Amerika adalah kawan bagi semua bangsa.. karena Amerika tidak akan mampu besar dengan kekuataan sendiri
(Pidato pelantikan Obama, 20/01/09)
Apa yang membedakan Obama dengan Bush, dan apa yang memisahkan Obama dengan F.D. Roosevelt? Dalam hal ini, tak banyak orang yang menyanggah, bahwa Obama adalah presiden yang amat berbeda dengan seniornya terdahulu, terutama Obama adalah orang Afrika-Amerika, yang pertama menjadi “penguasa” Amerika. Inilah yang membedakan Obama dengan presiden Amerika lainnya.
Obama dan Bush adalah dua sosok yang amat berbeda, Obama dan Roosevelt adalah anak zaman yang berbeda, jelas ini faktanya. Tak heran dengan perbedaan ini, sampai detik-detik pelantikan Obama hari Selasa (20/01) banyak orang masih tetap memuja Obama sebagai “the new leader” untuk Amerika Serikat baru. Ini adalah tumpukan harapan kebanyakan rakyat Amerika dan dunia kepada Obama. Betapapun, Obama adalah anak zaman yang lahir ketika dunia sedang berkecamuk, ketika Amerika Serikat terjangkit“sampar” ekonomi, Barack Obama lah harapan dunia, dan lokomotif bagi kebangkitan ekonomi Amerika Serikat. Namun benarkah demikian?
Setelah pidato pelantikan Obama, banyak orang terperangah, hingga melahirkan “sorai” yang riuh, namun apakah makna gemuruh “sorai” ini bagi pemuja Obama? Mungkin tak seindah apa yang kedengaran oleh Obama, mungkin saja ini mengedapkan kecewaan yang luruh sebatas “sorai”, yang terselip antara kagum dan ragu atas seorang Obama. Faktanya, apa yang diungkapkan oleh Obama hanya melahirkan “tumpukan” harapan yang dibangun dalam verbalitas politik. Disinilah, hebatnya Obama bersama konseptornya. Obama sangat mahir menciptakan bahasa verbalitas, yang menyejukan seketika, walau impulsnya tidak permanent. Obama pintar membuat dunia bertanya “kemanakah sesungguhnya Amerika berjalan? Terjawabkah tanya dunia setalah Obama berpidato saat pelantikannya? Hari selasa (20/01) adalah hari yang dinantikan oleh dunia. Sebab dunia sedang menunggu sikap Amerika terhadap “sampar” yang sedang menjangkiti dunia dan Amerika.
Secara praksis ada dua hal yang sedang ditunggu dunia dari seorang Obama. Pertama, sikap Obama terhadap dunia Islam, terutama berkaitan dengan konflik Palestina dan Israel. Kedua, respon Obama terhadap krisis nilai dalam anatomi kapitalisme ekonomi yang menahun di Amerika Serikat. Intinya, Obama masih bersikap pasif belum berani mendobrak dengan kata-kata yang membara, belum mampu berani meninggalkan “image/citra” yang lama terhujam dalam watak kekuasaan Amerika Serikat. Sekilas Amerika baru, masih sebatas “imajinasi seorang Obama”, namun akan buyar ketika menyentuh realitas. Begitukah sesungguhnya? Sepintas memang demikian yang tampak di permukaan. Lalu bagaimana dengan realitas yang tersembunyi dari seorang Obama, apa bentuk imajinasi tentang dunia baru, Amerika baru yang masih mengendap di minda seorang Obama?
Imajinasi Walfare EconomicObama
Ada yang menarik dari rangkai pidato Obama kala Ia dilantik, yaitu untaian kalimat “kebangkitan ekonomi Amerika tidak diukur dari PDB (Product Domestic Bruto), tapi dari kemampuan ekonomi untuk menciptakan kesejahteraan bagi Amerika”. Apakah ini bermakna bahwa Amerika akan meninggalkan the principle values of capitalism, yang menahun dalam anatomi ekonomi Amerika atau ini menjadi signifier bahwa Amerika Serikat dengan tangan dingin seorang Obama akan menata ekonomi Amerika berdasarkan prinsip walfare economic. Jika ini, benar maka inilah yang dimaksud dengan “the myth of black messiah” yang mengendap dalam mimpi orang-orang Africa-America atas Obama. Melalui Obama agaknya Amerika akan keluar dari lingkaran setan (satanic cycle) bahwa Amerika adalah penguasa tunggal dunia. Kenyataannya sesungguhnya, Amerika Serikat tidak sehabat itu—Amerika Serikat besar bukan karena tindakan, tapi tak lebih karena kemampuannya membangun citra hebat (genious image) bagi dunia. Faktanya, didalam jubah kehebatannya, Amerika tepat ringkih oleh ekonomi-nya sendiri. Karena itu, tak berlebihan jika banyak orang mengatakan ada yang salah dalam ekonomi Amerika Serikat.
Karena itu, berkaitan dengan “sampar” ekonomi di Amerika, Obama menciptakan desain unik, mulai dari desain struktur ekonomi, sampai dengan filosofi dasar ekonomi Amerika. Dalam hal ini, Obama sedang merencanakan untuk menjinakan “kapitalisme Amerika” dengan suplemen “walfare economic”. Memantik desain ekonomi ala Obama, terutama kaitannya dengan walfare economic (baca; ekonomi kesejahteraan) yang sedang mengelitik pikiran seorang Obama, mendorong “kita” kembali mengkaji kebijakan ekonomi yang akan dibengkeli oleh Obama.
Obama peka terhadap akar krisis ekonomi di Amerika Serikat, kemudian akar ini menjadi core issue dalam kampanye politik Obama. Kini Amerika sedang mengalami inersia ekonomi, akibat salah mengasumsikan “pasar”; hingga kesenjangan social dan ekonomi melemahkan optimisme warganya terhadap struktur ekonomi kapitalisme pasar (marketcapitalism) Amerika. Kini, kata Ahmad Erani Yustika, Amerika sedang menjadi “sleepy state” di bidang ekonomi. Faktanya, selama ini Amerika menyerahkan gerak perekonomian pada pasar, dalam hal ini hanya digerakkan secara liar oleh capitalism society, yang mempengaruhi ekonomi Amerika. Inilah yang menyebabkan kesenjangan ekonomi, yang kemudian membuat sektor sosial terabaikan, seperti pendidikan dan kesehatan.
Menyahuti kondisi ini, Obama sedang mendesain pendekatan unik dan berbeda dengan pendekatan sebelumnya-- untuk menjinakkan kapitalisme di Amerika Serikat, Obama menerapkan pajak progresif (progresive tax). Dalam perencanaannya praksisnya, warga yang lebih kaya (pendapatan di atas 250.000 dollar AS) akan mendapat beban pajak lebih tinggi. Inilah core penting dari “walfare economic” yang tengah didesain oleh Obama. Dalam bentuk yang lain, Obama membidani ekonomi Amerika dengan pendekatan fiskalnya. “Untuk jangka pendek, kami harus fokus pada mendorong perekonomian dan menciptakan 2,5 juta lapangan pekerjaan. Perlu ada reformasi di Washington terutama dalam hal fiskal,” papar Obama, dikutip oleh Inilah.com (25/11/08). Akan sukseskah desain ekonomi Obama ini atau hanya sebatas imajinasi bagi ekonomi Amerika?
Jika selama ini, ekonomi Amerika dikelola dengan gaya ekonom mafia berkeley, semua serba marketsentris. Kini Obama, mencoba membalikkan turbin ekonomi Amerika kepada keynessian style. Hal ini dapat dilacak dari tujuan Obama menerapkan pajak progresif. Dalam tradisi keynessian, pajak progresif akan mendorong bergeraknya “sektor rill”, dan mendorong tingkat konsumsi masyarakat—hal ini terkait jika pemerintah fokus pada sektor mikro ekonomi. Secara permanen efek pajak progresif akan mendorong pengumpalan pada permintaan total (aggregate demand). Pada skala investasi, investasi kelompok mapan akan meningkat, karena dengan pajak progresif mendorong mereka menabungkan sebagian pendapatan. Sementara kelompok masyarakat kecil, dan menengah akan berusaha memperbesar porsi konsumsi. Dari kondisi inilah, distribusi dan sirkulasi pendapatan akan bergerak cepat. Kekayaan tidak mengendap pada satu kelompok mapan saja, tapi Ia akan bergerak memasuki kantong-katong masyarakat miskin, melalui “aksesif” modal yang beredar di pasar dan berseliweran dalam poros aktivitas ekonomi masyarakat. Dalam bentuk ini, ekonomi Amerika Serikat berbentuk piramida terbalik, memangkas trickle down effect. Masyarakat mapan dengan sendirinya, akan didorong untuk memberdayakan masyarakat kecil di Amerika melalui sektor-sektor finansial, kemudian mengalir pada sektor rill. Inilah imajinasi walfare economic yang tengah mengelitik dan menjadi desain ekonomi Obama bagi Amerika. Bagaimana dengan Indonesia?.▪