Postingan

NAGARI DAN EKSPERIMENTUM DEMOKRASI LOKAL

Gambar
Oleh: Muhammad Sholihin Implementasi UU No 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah telah melahirkan spirit baru bagi masyarakat Minangkabau untuk mencari jati diri pemerintahannya dan kembali ke nagari adalah bukti nyata dari kehausan akan jati diri tersebut. Pencarian ini menjadi keniscayaan dari implementasi dari UU No 5 tahun 1979 tentang pemerintahan desa yang telah memporak perandakan sistem demokrasi lokal di Minangkabau. Dengan hujaman politik ‘uniformisasi’—pemerintahan desa telah membuat dinamika di tingkat grass root berubah dengan drastis. Faktanya ‘demokrasi’ yang lahir dari desa-desa di Minangkabau mulai terdistorsi dengan intrik kekuasaan dan nyaris ‘demokrasi’ lokal berakhir dengan tragis. Karena lembaga-lembaga kultural di tingkat desa tidak lagi berfungsi semestinya. Inilah potret, bagaimana institusi demokrasi lokal dihabisi secara kontra-evolusi oleh sebuah rezim. Namun, gerakan otonomi daerah yang menyapu pelosok nusantara telah membua...

HIERATAGE KITA DALAM PASUNGAN JIRAN

Gambar
HIERATAGE KITA DALAM PASUNGAN JIRAN Oleh : Muhammad Sholihin Pecaplokan wilayah, klaim atas hieratage nusantara oleh negara jiran Malaysia, kekerasan atas tenaga kerja Indonesia di Malaysia, jelaslah sebagai rentetan peristiwa yang tidak alamiah. Tapi ini, berkelidan dengan fakta-fakta sosial yang tidak mudah dipahami secara parsial. Kenapa arogansi Malaysia kembali mengeruyak, ketika bangsa ini diredung krisis toleransi, dan sublimasi identitas? Ketika browsing di internet, dengan mengunakan search engine Google dan mengetikan key word “pencaplokan oleh Malaysia ”. Maka keluarlah web-web yang mendedahkan prestasi-prestasi Malaysia dalam pencaplokan atau klaim atas hieratage Indonesia . Sebuah realitas yang sedang aktual untuk dibicarakan, kenapa Malaysia akhir-akhir ini dengan begitu mudah mengklaim hieratage nusantara sebagai kekayaan intelektual Malaysia ?. Memang proses klaim Malaysia atas sebagian hieratage nusantara mempunyai landasan ter...

GLOBALISASI MINUS PEMBERDAYAAN

GLOBALISASI MINUS PEMBERDAYAAN Oleh: Muhammad Sholihin Adalah Joseph E. Stiglitz peraih nobel ekonomi tahun 2001 dengan lantang meneriakan borok-borok globalisasi. Stiglitz bertutur “Walaupun orang lain menderita akibat salah urus globalisasi dan walaupun dalam jangka panjang salah urus ini akan berdampak mahal bagi AS sendiri—terutama saat semua masalah pemerintahan Clinton melipatganda dan membesar oleh pemerintahan Bush—dalam jangka pendek Amerika Serikat diuntungkan. Sekali lagi terbukti bahwa apa yang baik bagi Amerika tidak selalu baik bagi dunia. Lebih dari itu, apa yang jelek bagi dunia mungkin justru tidak jelek bagi Amerika. Paradoks ekonomi tidak serta merta lahir dari proses alamiah, sebagaimana mitos-mitos ilmiah yang didogengkan dalam teori ekonomi. Sebagai manusia yang hidup dalam alam modernisasi ekonomi dan selalu melek melihat efek-efek paradoks yang ditimbulkan oleh salah urus ekonomi—telah membuat manusia-manusia menjadi apatis terhadap mitologi ekonomi ya...

NAGARI VS GLOBALISASI

NAGARI VS GLOBALISASI Oleh: Muhammad Sholihin (Jaringan demokrasi antar kampus PSIK-Paramadina) Nagari sebagai identitas struktural-formal di Minangkabau, waktu demi waktu, seiring kompleksitas perubahan zaman dihadapkan pada kaidah perubahan alamiah, hingga pada siklus hidupnya, nagari telah menjadi institusi yang kehilangan identitas asli—distorsi zaman, distorsi politik bahkan distorsi ekonomi memamah nagari dan menyeret nagari ke dalam perubahan-perubahan yang mencengangkan. Perjalanan waktu telah membuat gesture kehidupan berubah, dengan dinamika sejarah, perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dielakkan. Distorsi ekonomi, politik maupun distorsi sejarah ikut memamah kehidupan manusia. Walhasil, tidak ada yang kekal dalam struktur kehidupan manusia. Identitas budaya dalam suatu masyarakat sering kali berubah akibat berhadapan dengan struktur yang datang dari luar. Begitu juga dengan struktur formal yang ada dalam masyarakat Minang, perubahan-perubahan...

KONFLIK TANAH DAN LOGIKA KEKERASAN

KONFLIK TANAH DAN LOGIKA KEKERASAN Oleh: Muhammad Sholihin ( Pembina Komunitas GIE Tarbiyah Islamiyah ) "Jalan Raya Dilebarkan Kami Terusir, Mendirikan Kampung Di Gusur, Kami Pindah-Pindah Menempel Di Tembok-Tembok Dicabut Dan Dibuang" (Wiji Thukul) Konflik Tanah dan kekerasan massa dalam sejarah bangsa Indonesia adalah Fenomena tua yang sering membayangi realitas kehidupan berbangsa. Konflik Tanah sering berawal dari sengketa kepemilikan antara Satu kelompok dengan kelompok lain, namun Konflik Tanah menjadi menarik ketika yang terlibat dalam konflik itu adalah kekuasaan dan berhadapan dengan rakyat. Konflik Tanah ini sering terjadi antara petani dengan Negara ataupun antara petani dengan pihak swasta. Pada era pemerintah Soeharto konflik tanah dominant terjadi antara pemerintah dan mempergunakan meliter sebagai kekuatan opresi terhadap petani dan tidak jarang juga pihak swasta mengunakan pendekatan kekuasaan untuk proses klaim terh...

URBANISASI: MUTASI GEJALA EKONOMI KE BUDAYA

URBANISASI: MUTASI GEJALA EKONOMI KE BUDAYA Oleh: Muhammad Sholihin Lebaran telah menciptakan keajaiban temporal, lihatlah Sirkulasi uang meningkat seiring sublimasi keshalehan atau pun didorong oleh proses pendefenisian diri lewat “konsumsi” yang lebih massif. Tapi lebaran juga telah memberikan harapan bagi para pengangur, dalam hal ini para perantau telah berperan aktif dalam menciptakan ‘harapan’ itu. Walhasil, Urbanisasi bergerak lurus dengan lebaran, kini urbanisasi tidak saja menjadi fenomena ekonomi an sich , tapi telah menjadi gejala budaya. Urbanisasi sebagai terma yang menunjukan berpindahnya penduduk dari desa ke kota dan urbanisasi sebagai gejala yang sering kali muncul ketika lebaran menjelang telah menjadi sebuah ritualitas tahunan yang menerjang bangsa ini. Jika dikaji lebih seksama problema urbanisasi yang melanda kota besar di indonesia, seperti Jakarta, merupakan gejala urbanisasi yang menyimpang dari problema urbanisasi yang terjadi di negara ...

PKI dan ketertindasan

HOLOCAUST TERHADAP PKI Oleh: Muhammad Sholihin Sudah beberapa tahun ini tidak ada lagi tayangan yang mengerikan, tayangan yang menyuguhkan ke publik tentang setan-setan merah ‘PKI’ yang melakukan tindakan biadab terhadap para jenderal dan dituding sebagai biqot pancasila. Akankah ini pertanda bahwa ‘PKI’ telah diampuni? Tanggal 30 September tiap tahunnya--pada masa Soeharto--tayangan ‘film’ G30 S/PKI selalu hadir dalam TV dan menemani masyarakat di Nusantara. Inilah potret bagaimana sejarah diwariskan pada generasi muda. Pada masa soeharto berkuasa di negeri ini, hampir di setiap tanggal 30 September ‘film’ G30 S/PKI ditayangkan dan menjadi ritualitas politik. Makanya tidak belebihan, jika film ini menyamai rating sinetron yang disukai oleh masyarakat Indonesia, faktanya ketika 30 September menjelang mayoritas masyarakat akan nongkrong di depan TVRI dan mengkhidmati film tragedi kemanusiaan ini. Tragedi kemanusian yang disebakan oleh PKI yang tel...

RAMADHAN DAN RESTORASI TINDAKAN EKONOMI

RAMADHAN DAN RESTORASI TINDAKAN EKONOMI Oleh: Muhammad Sholihin Manusia adalah Hewan Bermoral Dan Tak Ada Tatanan Ekonomi Atau Politik Yang Bertahan Lama Kecuali Didasarkan Pada Basis Moral (Nigel Lawson) Menghayati ungkapan Nigel Nelson ini, terasa kian penting ditengah karut marut perekonomian dan kultur anak bangsa yang dibingkai dalam aksi-aksi post-kriminalitas. model bisnis yang berkerakter mafia, atau pun transaksi yang berbasis penipuan, bisnis berkedok pemberdayaan, bahkan politik dumping, predator harga, semua rangkaian perilaku ini telah membentuk terma post-kriminalitas yang dibangun atas velocity of act, dengan kombinasi teknologi dan strategi pemasaran—perilaku-perilaku rendah dalam ekonomi dimutasikan menjadi perilaku yang standar dan tidak terkesan problematik. Inilah dunia yang dikatakan oleh Yasraf Amir Piliang sebagai ‘Imagologi Of Suffering’ yang bermakna sebagai pencitraan yang pedih atas perilaku ekonomi yang kian tidak manusiawi. ...

KOGENSI SEKULERISME

KOGENSI SEKULERISME Oleh: Muhammad Sholihin (Peneliti Muda PSIK Univ. Paramadina/alumni MTI Candung-Bukittinggi) “Arkoun dalam mengkaji tradisi Islam telah mengunakan istilah “kapital simbolis”, dan bagaimana sebagian gerakan-gerakan politis ingin memanipulasinya untuk memobilisasinya ‘bagi kepentingan kekuasaan…” ( Hashim Shalih ) Menghayati ungkapan Hashim Shalih ini pada akhirnya akan menghantarkan kita pada pemahaman yang utuh terhadap sekulerisme. Sebab sekulerisme beberapa dekade ini dinilai sebagai “ beyond of Islam ”. Sekulerisme malah dinilai sebagai ‘isme’ yang bertentangan dengan Islam. Membicarakan sekulerisme terasa kian tabu ditengah-tengah gejolak gerakan mono-identitas. Dalam konteks ini, mengeluti sekulerisme dipersepsikan secara sepihak sebagai proses ‘deviasi’ dari Islam. Hingga tak jarang orang atau pun tokoh-tokoh yang mencoba memahami dogma agama yang berhubungan dengan kehidupan sosial, ekonomi bahkan politik secara kritis, malah d...